Blog Kesehatan Dan Kecantikan

Pengertian Dan Pemahaman Animal Testing

Istilah lain untuk Animal testing adalah animal experimentation, animal research, in viva testing dan vivisection. Animal testing dikenal juga dengan istilah ujipra klinis. Selain pada produk kosmetik, animal testing biasanya juga digunakan untuk menguji keamanan produk makanan dan kesehatan.
Hewan yang biasanya digunakan dalam animal testing adalah bangsa pengerat. Seperti tikus, kelinci, marmot dan hewan-hewan kelompok rodentia lainnya. Hewan lain yang sering digunakan adalah hewan dari kelompok karnivora seperti anjing. Selain itu, beberapa jenis primata juga umum digunakan dalam animal testing.
Animal testing dilakukan untuk menguji keamanan dari bahan baku yang digunakan untuk produk akhir. Animal testing dilakukan sebelum human testing. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko atau efek negatifnya saat diujikan pada manusia. Disini, hewan digunakan sebagai objek penderita untuk memastikan bahwa produk tersebut aman ketika diaplikasikan kepada manusia.

Tujuan animal testing

  1. Memastikan keamanan bahan baku yang digunakan dalam satu produk.
  2. Memastikan bahwa senyawa-senyawa yang digunakan dalam suatu produk tidak memiliki efek fisiologis yang negatif terhadap jaringan tubuh manusia.
  3. Memastikan keamanan produk kosmetik yang dihasilkan.
  4. Mengetahui fototoksisitas (iritasi yang berhubungan dengan cahaya, biasanya terjadi setelah kulit cukup cahaya).
  5. Mengetahui potensi iritasi bahan baku atau produk terhadap kulit dan mata.
  6. Mengetahui komedogenisitas (kemampuan untuk merangsang tumbuhnya jerawat dan gangguan lain) pada kulit.

Teknis animal testing

Pada teknis animal testing, biasanya hewan yang digunakan adalah hewan utuh atau hanya bagian tertentu dari tubuh hewan tersebut. Tidak jarang juga yang digunakan sebagai objek penderita adalah hewan hidup yang sehat.
Animal testing pada kulit hewan atau bagian tertentu tubuh hewan diaplikasikan dengan bahan yang akan diuji. Berikut adalah salah satu contoh langkah-langkah animal testing untuk mengetahui potensi bahan atau produk dalam menimbulkan komedo atau jerawat (comedogemity) :
  • Hewan yang digunakan dalam pengujian ini adalah kelinci.
  • Bahan atau produk yang akan diteliti diaplikasikan pada satu telinga setiap kelinci sebanyak setengah milimeter. Telinga lainnya sebagai kontrol.
  • Tes dilakukan selama 5 hari dalam 1 minggu dan dilakukan selama 2 minggu berturut-turut.
  • Kemudian dilakukan observasi berdasarkan gejala yang timbul pada objek yang diteliti.
Larangan melakukan animal testing
Animal testing, meskipun memiliki tujuan yang baik yaitu memastikan bahwa produk yang dihasilkan dari suatu industri aman bagi kulit, namun beberapa negara melarang hal ini. Mereka mendorong agar lembaga-lembaga penelitian menemukan metode pengujian lain yang lebih ramah dan beretika. Animal testing dianggap menjadi salah satu metode pengujian yang bertentangan dengan bioetika.
Pihak-pihak yang banyak menentang animal testing adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan hidup dan kelompok pecinta satwa. Seperti dimaklumi, animal testing menggunakan hewan sebagai objek penderita pada penelitian. Tidak jarang, hewan-hewan  yang digunakan pada pengujian tersebut dibunuh untuk menghindari interaksi dengan hewan-hewan lainnya. Hewan-hewan yang digunakan dalam animal testing pada umumnya adalah bangsa pengerat.
Dilaporkan pada tahun 2001 tercatat 1.655.766 ekor tikus, 8.273 ekor karnivora, termasuk anjing yang digunakan sebagai animal testing di Inggris. Selain bangsa pengerat (rodentia), kelompok hewan lain yang sering digunakan dalam animal testing adalah hewan-hewan dari kelompok karnivora, dan primata.
Ada beberapa alasan mengapa para penggiat LSM lingkungan dan kelompok pecinta satwa melarang penggunaan animal testing untuk pengujian produk :
  1. Pada animal testing, hewan-hewan tak berdosa ini harus menanggung efek samping penggunaan dosis bahan-bahan kimia yang digunakan dalam kosmetik.
  2. Hewan-hewan yang digunakan untuk animal testing terkadang diperlakukan secara tidak layak. Bahkan, tidak jarang juga kebutuhan nutrisi mereka diabaikan atau kurang diperhatikan.
  3. Selain itu, bahan-bahan yang dinyatakan lolos melalui animal testing terkadang memberikan efek berbeda pada manusia, jadi bahan yang dinyatakan aman pada animal testing belum tentu aman ketika diaplikasikan pada manusia. Demikian juga sebaliknya.
Fakta ini kemudian menjadi pegangan bagi para penggiat LSM lingkungan dan kelompok pecinta satwa untuk menolak penggunaan hewan sebagai objek penderita pada animal testing.  Uji coba pada hewan dengan tujuan meminimalisir efek negatif saat human testing sangat tidak beralasan. Karena, bahan yang dinyatakan aman ketika melewati animal testing belum tentu memberikan efek yang sama pada manusia.
Menyikapi hal ini, kemudian banyak pihak bahkan beberapa negara dengan terang-terangan menolak teknik animal testing untuk menguji keamanan produk obat, makanan dan kosmetik.  Teknik ini dianggap sudah kuno dan tidak relevan lagi digunakan. Sebagai gantinya, lembaga penelitian internasional kemudian menyarankan penggunaan tes pada kultur sel manusia (tube test) Cara ini dianggap lebih mudah diaplikasikan daripada animal testing yang banyak mengorbankan keseimbangan lingkungan. 
Tag : Pengertian

Back To Top